Jumat, 02 Desember 2022

9 Alasan Mengapa Panel Surya Dipasang di Atap Rumah










Anda mungkin bertanya-tanya mengapa panel surya dipasang di atap rumah? Sebenarnya panel surya bisa dipasang dimana saja, meski atap adalah tempat yang populer.
Ketika Anda memutuskan untuk beralih ke energi tenaga matahari, Anda mungkin mulai bertanya-tanya mengapa panel surya dipasang di atap rumah?

Sebenarnya panel surya bisa dipasang dimana saja, namun posisi yang paling populer memang dipasang di atap bangunan. Oleh karena itu sering sebut sebagai solar rooftop system atau PLTSA (PLTS Atap).

Ada pula metode pemasangan panel surya dengan menempatkannya di atas tanah menggunakan penopang atau meletakkannya di atas sungai, danau, dan laut.

Atap yang akan dijadikan sebagai lokasi penempatan panel surya perlu memenuhi beberapa persyaratan fisik seperti luas tap, kekuatan atap, bentuk atap, dan bayangan yang mengarah ke atap.

Jika atap terlalu kecil panel surya yang dipasang tidak akan banyak dan dikhawatirkan tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik di rumah Anda.
Masalah lain seperti bayangan pohon dan bangunan lain yang mengarah ke atap Anda dapat menurunkan potensi efisiensi panel surya. Tenaga surya adalah sumber energi yang paling berlimpah, bersih, dan terbarukan di bumi.
Bahkan bisa mengisi ulang dirinya sendiri berulang kali dan beroperasi tanpa menghasilkan polusi seperti bahan bakar minyak dan gas. Ada beberapa alasan mengapa panel surya dipasang di atas rumah, diantaranya:

1. Mengurangi Pemakaian Lahan

Panel surya yang diletakkan di atap bisa mengurangi pemakaian ruang di lahan rumah Anda, dengan begitu atap yang biasanya kosong jadi lebih bermanfaat.

Selain itu, dengan memasang panel surya di atap rumah artinya Anda tidak akan kehilangan dan mengambil lahan yang bisa digunakan untuk kegiatan lain.

2. Lebih Aman

Penempatan solar panel di atap akan mencegah terjadinya kerusakan langsung pada panel surya karena terkena puing-puing batu, tongkat, atau terkena lemparan benda keras tanpa sengaja.

3. Sedikit Rangka Besi

Memasang panel surya di atas rumah membutuhkan lebih sedikit besi sebagai kerangka penopang, berbeda jika panel surya dipasang di atas tanah maka butuh penopang yang lebih banyak dengan pondasi yang kuat.

4. Lebih Cepat Dipasang

Panel surya yang dipasang di atap dapat dikerjakan lebih cepat daripada memasangnya di tanah (ground) yang harus menggali lubang untuk rangka penyangga, membuat parit, dan merangkai kawat.

Lebih cepat karena tidak perlu melakukan banyak aktivitas lain sehingga Anda bisa fokus untuk memasang panel surya sebaik mungkin.

5. Hemat Anggaran

Sedikit pekerjaan yang dilakukan dengan sedikit orang bekerja di atap rumah akan mengurangi pengeluaran Anda, selain itu rangka penopang yang digunakan juga lebih sedikit sehingga uang yang dimiliki dapat dipakai untuk membeli komponen lainnya.

6. Meningkatkan Nilai Rumah

Manfaat lain memasang panel surya di atap rumah adalah meningkatnya nilai rumah Anda. Rumah yang terpasang sistem PLTS lebih menarik, terlihat futuristik, dan peduli lingkungan. Bisa jadi Anda akan menginspirasi tetangga di dekat rumah Anda untuk ikut memasang panel surya.

7. Menghindari Gangguan

Menempatkan panel surya di atas rumah memungkinkan panel surya menerima radiasi panas sinar matahari secara langsung tanpa ada gangguan dari lingkungan sekitar dan tidak mudah dirusak.

8. Mendinginkan Atap

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh UC San Diego, panel surya membantu mengurangi suhu didalam rumah hingga hampir 35%. Panel surya menghalangi panas untuk sampai ke atap dan menyerap sinar matahari yang seharusnya jatuh langsung ke atap.

Selain itu ada pula ruang antara panel surya dan genteng yang dapat mengalirkan udara untuk membantu mendinginkan atap rumah. Ibaratnya panel surya ialah pohon peneduh yang membantu menjaga atap lebih aman dari panas dan puing-puing.

9. Melindungi Atap

Cuaca buruk seperti salju, hujan es, angin, dan hujan yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada atap rumah Anda jika terjadi selama bertahun-tahun.

Ketika panel surya berada di atap, ada semacam penghalang yang menghalangi cuaca buruk tersebut. Setidaknya dapat membantu melindungi genteng dan dapat membantu atap bertahan dari cuaca buruk lebih lama daripada tanpa panel surya

Kesimpulan

Demikian sembilan alasan mengapa panel surya dipasang di atas rumah, meski memasang panel surya di atap rumah memiliki banyak keuntungan namun Anda juga perlu memperhatikan kondisi dan kekuatan atap di rumah Ada.

Walaupun panel surya bisa dipasang dalam berbagai macam bentuk atap, Anda harus melakukan pengecekan dengan seksama dan menghitung kemampuan atap untuk menopang berat panel surya. Salam energi hijau!


Pertimbangan Memasang Panel Surya di Atap Datar

Ada beberapa pertimbangan memasang panel surya di atap datar. Anda mungkin mendengar panel surya perlu dimiringkan pada sudut tertentu untuk menangkap sinar matahari. Lalu, bagaimana jika Anda punya atap rata tanpa ada kemiringan sedikit pun. Apakah panel surya tetap bisa dipasang di rumah dengan atap datar?

Jawaban singkatnya adalah “YA” panel surya bisa dipasang di atap datar, tetapi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan untuk pemasangan panel surya di atap datar. Jika atap Anda dalam kondisi baik dan tidak memiliki penghalang di sekitar maka Anda dapat memasang panel surya di atap datar.

Penghalang yang dimaksud seperti bangunan yang lebih tinggi atau pohon yang dapat menghalangi sinar matahari dan mengurangi keluaran energi. Sebenarnya memasang panel surya di atap datar lebih disukai daripada di atap miring. Atap datar membuat panel surya lebih sulit dilihat dari jalan, sehingga bisa menjaga nilai estetika rumah Anda.
Saat merencanakan pemasangan panel surya di atap datar, salah satu keputusan yang harus Anda buat adalah apakah akan memasang panel surya datar atau menggunakan peralatan pemasangan untuk memiringkan atau menaikkan panel surya ke sudut 25°.

Peralatan Memasang Panel Surya di Atap Datar
Rak dudukan panel surya-via Distributor PT. Harbangan Ashera Nabolax

Ada beberapa peralatan khusus yang diperlukan untuk memasang panel surya di atap yang datar. Misalnya rak dudukan miring diperlukan untuk memiringkan panel surya pada sudut tertentu.

Ada banyak sistem rak dan alat yang dapat digunakan untuk memiringkan panel surya ke posisi yang tepat. Namun, harga alatnya bisa jadi sedikit lebih mahal daripada pemasangan standar yang digunakan pada atap miring.

Apakah Lebih Mahal Memasang Panel Surya di Atap Datar?

Memasang panel surya di atap datar bisa sedikit lebih mahal. Anda perlu memasang dudukan miring yang digunakan untuk mengatur sudut kemiringan panel surya. Untuk sebagian besar sistem PLTS, biaya pemasangan dan tenaga kerja mencapai sekitar 10% dari total harga.

Tetapi di atap datar, biaya tersebut berkurang karena bekerja di atap datar lebih mudah diakses dan lebih aman daripada di atap miring. Di atap miring, pekerja membutuhkan peralatan keselamatan khusus untuk melakukan pekerjaan agar tidak jatuh.

Belum lagi bahan atap seperti genteng yang punya kemungkinan pecah atau terjatuh selama proses instalasi panel surya berlangsung. Masalah semacam itu tidak akan ditemui jika atap rumah Anda datar. Pemasang dapat berjalan dengan bebas dan bahan di atap datar cenderung tidak mengalami kerusakan selama pemasangan.

Apakah Atap Datar Mempengaruhi Output Panel Surya?

Pada atap yang miring, sudut panel surya tergantung pada sudut atap dan arah muka atap. Sedangkan di atap datar, Anda dapat mengarahkan panel surya ke segala arah dan memiringkannya ke sudut mana pun yang Anda inginkan.

Kebebasan ini memudahkan Anda untuk mengoptimalkan output energi. Dengan menghadapkan panel surya ke selatan dan menyesuaikannya ke sudut yang sama dengan garis lintang rumah, Anda dapat memaksimalkan paparan sinar matahari dan menghasilkan lebih banyak energi.

Kerugian Memasang Panel Surya di Atap Datar

Ada tiga kelemahan meletakkan panel surya di atap datar, yaitu: kebocoran atap, panel surya cepat kotor, merugikan rumah di belahan utara, dan pembatalan garansi panel surya.

1. Kebocoran Atap

Masalah utama yang muncul dari pemasangan panel surya di atap datar adalah kebocoran. Jika panel surya dipasang datar, air dapat menggenang diatas dan disekitarnya saat hujan, kondisi itu bisa menyebabkan kerusakan pada atap rumah.

Solusi terbaik adalah memiringkan panel surya pada suatu sudut. Memiringkan 3 atau 4 derajat saja dapat membantu mencegah terjadinya kebocoran dan menjaga panel surya tetap bersih.

2. Panel Surya Cepat Kotor

Panel surya yang dipasang datar punya potensi lebih cepat kotor daripada yang miring. Dari waktu ke waktu, panel surya menjadi lebih kotor dan kotoran yang tidak turun bisa mengurangi produksi listrik.

Panel surya yang dimiringkan dapat membersihkan sendiri karena air yang mengalir membawa sebagian besar kotoran dan puing jatuh bersamanya. Sedangkan panel yang dipasang datar tidak bisa dengan baik melakukannya.

3. Merugikan Rumah di Belahan Bumi Utara

Jika berada di belahan bumi utara, karena posisi matahari bergerak dari timur ke barat setiap hari maka jalurnya selalu melintasi bagian selatan langit. Oleh karena itu, solar panel yang diletakkan rata tidak menghadap matahari sebanyak solar panel yang dimiringkan ke arah selatan.

4. Pembatalan Garansi Panel Surya

Meletakkan panel surya secara datar terkadang dapat menyebabkan pembatalan garansi pabrik pada panel surya. Alasannya adalah ketika panel dipasang datar, air akan tertahan berada diantara bingkai dan lapisan kaca modul.

Mengingat lapisan ini hanya disegel oleh silikon, mirip dengan sesuatu yang Anda gunakan di kamar mandi untuk menyegel air. Kondisi dapat ini menambah risiko panel surya karena akan ada lebih dari 10 hingga 20 tahun air yang menembus penghalang dan merusak komponen panel surya didalamnya.

Kesimpulan

Memiliki atap datar tidak menghalangi Anda untuk memiliki PLTS di rumah. Atap datar juga tidak akan menggangu output daya panel surya selama Anda memasangnya dengan sudut yang agak miring. Bahkan dapat memberikan output energi yang lebih baik daripada atap miring karena Anda dapat mengontrol kemiringan.




Lakukan 4 Hal Ini Sebelum Memasang PLTS Atap

Apa saja yang harus dilakukan sebelum memasang PLTS Atap? Ada empat hal yang perlu diperhatikan: kebutuhan listrik, bangunan, konsultasi PLN, memilih instalator

 PLN saat ini sedang berupaya meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT) dengan melakukan berbagai upaya seperti mengkonversi PLTD menjadi PLTS.

Upaya ini diharapkan tidak hanya dilakukan oleh pihak pemerintah saja, tetapi juga oleh masyarakat pada umumnya. Khususnya yang menjadi pelanggan PLN, baik itu konsumen rumah tangga, bisnis, industri, maupun swasta.

Baik itu rumah, gedung kantor, gudang, maupun bangunan lain yang punya struktur menunjang untuk dipasang dapat ikut serta untuk mendukung program bauran energi tersebut. Berikut ini panduan bagi pelanggan PLN yang tertarik untuk memasang PLTS atap.

1. Menghitung Kebutuhan Listrik

Pertama, hitung dulu kebutuhan listrik di siang hari ketika memakai daya dari PLN. Perhitungan ini akan dipakai sebagai dasar acuan untuk menetapkan spesifikasi modul surya, kapasitas dan tegangan inverter.

Spesifikasi yang dipilih nantinya juga akan mempengaruhi anggaran yang diperlukan, semakin besar kebutuhan listrik harian maka panel surya yang diperlukan juga semakin banyak.

Menghitung kebutuhan listrik untuk PLTS atap bisa dilakukan dengan mengikuti beberapa langkah sederhana analisa beban, hitung kebutuhan listrik PLTS atap

2. Memeriksa Kondisi Bangunan


Estimasi area atap

Perlu diketahui bahwa PLTS rooftop tidak hanya memasang panel surya di atap bangunan tetapi juga bisa dipasang pada dinding bangunan. Langkah kedua yang harus dilakukan adalah memeriksa bangunan yang akan dipasang PLTS, baik itu rumah, kantor maupun pabrik.

Pemeriksaan yang dilakukan mencakup lokasi peletakan panel surya, seberapa luas lokasi atap/dinding, kekuatan struktur bangunan untuk menopang panel surya, sudut kemiringan pemasangan, ada tidaknya bayangan yang menghalangi saat siang hari.

Atap yang datar akan memudahkan pemasangan, sedangkan atap yang miring akan lebih optimal jika panel surya dipasang disisi utara dan selatan. Tidak semua atap cocok dipasangi panel surya, oleh karena itu Anda perlu periksa rangka atap sebelum pasang modul surya. 

Bentuk atap nantinya akan mempengaruhi peletakan panel surya, oleh karena itu perlu dihatikan terkait dengan tingkat kemiringannya. Namun, jika atapnya miring disebelah timur dan barat akan diperlukan tambahan penyangga untuk menopang panel surya.

3. Berkonsultasi dengan PLN

Langkah ketiga yaitu mengkonsultasikan rencana pemasangan PLTS atap dengan pihak PLN, bisa dengan datang ke kantor PLN terdekat membawa nomor identitas pelanggan dan sampaikan niatan untuk memasang PLTS.

Kemudian tanyakan syarat yang diperlukan untuk memasang PLTS di atap rumah atau bangunan yang dimiliki. Berikut ini beberapa syarat izin operasi dan biaya penyambungan PLTS ke PLN yang bisa Anda jadikan informasi Awal.

Apakah harus menjadi pelanggan pasca bayar ataukah prabayar, untuk memastikan ini maka perlu ditanyakan ke kantor PLN terdekat. Selain itu tanyakan juga terkait formulir pendaftaran yang mungkin ada dan perlu dilengkapi sebelum mengajukan pemasangan.

Kemudian mintalah rekomendasi tentang instalator pemasangan PLTS yang telah mendapat sertifikasi resmi dari Kementerian ESDM. 

4. Memilih Instalator PLTS Atap

Halaman Resmi Daftar Badan Usaha Kelistrikan

Langkah terakhir yaitu memilih lembaga pemasangan PLTS yang punya sertifikasi dan direkomedasikan PLN. Selain bertanya dengan PLN, dapat juga menanyakan hal ini kepada distributor peralatan PLTS atau instalator yang memiliki kompetensi.

Ada beberapa instalator yang telah direview di website ini, PT HARBANGAN ASHERA NABOLAX. 

Misalnya kompetensi untuk melakukan analisa, merancang jaringan, menghitung rencana anggaran, perizinan, sertifikat layak operasi, dan tentu sekalian yang bisa memasangkan berbagai perangkat komponen ke atap bangunan.

Sekali lagi, pilih yang memang sudah berpengalaman dan punya kompetensi untuk memasang pembangkit listrik tenaga surya di atap. Ini penting dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tentu saja tidak diinginkan.





Apa Itu PLTS Atap: Pengertian, Komponen, dan Mekanismenya

PLTS adalah pembangkit listrik dengan energi yang didapat dari radiasi matahari melalui sel fotovoltaik yang menangkap sinar matahari dan mengkonversinya menjadi listrik. Intensitas radiasi yang makin tinggi semakin meningkatkan daya listrik yang dihasilkan.

Teknologi ini didukung dengan potensi sinar matahari yang selalu tersedia sepanjang tahun, karena negara kita terletak di garis khatulistiwa. PLTS benar-benar energi masa depan yang tak dapat diabaikan manfaatnya.

PLTS atap adalah pembangkit listrik tenaga surya yang menggunakan panel fotovoltaik yang ditempatkan diatap bangunan, dinding, atau bagian lain yang bisa mendapat banyak pancaran sinar matahari.

Memang namanya “atap” tentu saja akan cenderung diletakkan diatap rumah, kantor, pabrik, atau bangunan lain yang punya struktur bangunan kuat dan bisa dipasang panel surya.

Panel fotovoltaik atau dikenal panel surya dibuat dari bahan semikonduktor yang mampu mengubah radiasi sinar matahari menjadi arus listrik searah (DC).

Saat sinar matahari diterima semikonduktor yang ada di panel fotovoltaik, maka akan membebaskan elektron-elektron untuk menghasilkan listrik. 

Ada beberapa orang yang menyebut panel surya sebagai modul surya. Jadi, nggak perlu bingung apa bedanya karena memang sama-sama lempengan kotak hitam tipis yang berisi sel-sel fotovoltaik.

Prinsip Kerja PLTS Atap

PLTS Atap Gedung Rajawali Jakarta

Sistem PLTS atap terdiri dari panel surya, inverter, jaringan listrik PLN, sistem pengaman, dan meteran kWh untuk ekspor-impor atau jual-beli listrik.

PLTS atap sudah diakui oleh pemerintah Indonesia melalui berbagai peraturan menteri ESDM, beberapa informasi yang terkait diantaranya yaitu:

  • Pengguna PLTS atap mencakup konsumen PLN dari kategori rumah tangga, sosial, pemerintah, industri, dan bisnis
  • Pengguna hanya diijinkan memasang PLTS dengan kapasitas maksimal 100% dari daya yang digunakan, misalnya rumah tersambung 900VA maka hanya boleh memasang PLTS dengan kapasitas dibawah atau sama dengan 900VA
  • Panel surya dapat dipasang di atap, dinding, atau lokasi lain di bagian bangunan yang dimiliki konsumen PLN.

Komponen dan Mekanisme PLTS Atap

Mekanisme PLTS Atap

Garis besar PLTS atap secara umum dapat digambarkan pada gambar di atas. Skema PLTS atap on-grid di atas terhubung dengan enam komponen agar dapat bekerja dengan baik, yaitu:
  1. Panel surya
  2. Inverter
  3. Panel listrik atau AC breaker panel
  4. Perangkat elektronik (TV, Kulkas, Kipas Angin, Dll)
  5. Meteran kWh
  6. Jaringan listrik PLN (bisa pakai sumber apapun: PLTA, PLTG, PLTB, PLTD, dsb)
Berdasarkan enam komponen yang digunakan tersebut, maka dapat disusun mekanisme atau alur kerja PLTS atap sebagai berikut.
  1. Panel surya menangkap radiasi sinar matahari dalam bentuk arus listrik searah (DC)
  2. Inverter mendapat input listrik DC, kemudian diubah menjadi arus bolak-balik (AC)
  3. Panel listrik (breaker panel) menerima arus AC sebelum dialirkan ke jaringan listrik rumah dan meteran, panel listrik/switchboard diperlukan untuk mengamankan kelebihan beban dan korsleting
  4. Perangkat elektronik menerima listrik
  5. Net metering atau meteran kWh
  6. Listrik dari PLTS melewati meteran sebelum masuk ke jaringan PLN dan juga bisa dilewati listrik dari PLN masuk ke jaringan listrik rumah. Net metering membantu mengetahui seberapa banyak listrik yang digunakan atau listrik yang dikirim ke jaringan PLN.
Energi yang diterima panel surya bersifat intermiten atau tidak terus menerus tersedia, hal ini mempengaruhi besar kecilnya listrik yang dihasilkan.

Intermiten dipengaruhi oleh cuaca, pergantian siang-malam, bayangan pohon, bayangan bangunan, atau benda lain yang menghalangi panel surya menerima sinar matahari.

Karena intermitensinya inilah, PLTS akan menjadi lebih baik lagi jika dapat dibangun dengan sistem hybrid yang menyertakan komponen penyimpanan lainnya seperti baterai dan juga menghubungkannya dengan sumber energi lain yang tidak punya sifat intermitensi(seperti PLTA, PLTD, PLTG, dsb).

Mengenal Perbedaan PLTS Terpusat dan Tersebar

Klasifikasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya, diantaranya PLTS Terpusat dan Tersebar yang dikelompokkan berdasarkan pendistribusian listrik kepada konsumennya.

Perbedaan PLTS terpusat dan tersebar adalah cara pengelompokkan pembangkit listrik tenaga surya berdasarkan jaringan distribusi. Maksudnya pembangkit listrik dikelompokkan berdasarkan cara pendistribusian/pengiriman/pengaliran listrik kepada konsumennya.

Jenis PLTS semacam ini tidak hanya dapat dibuat oleh perusahaan besar dengan investasi milyaran, tetapi juga dapat dibangun secara pribadi. PLTS yang dikelompokkan berdasarkan jaringan distribusi terdiri atas PLTS Terpusat dan PLTS Tersebar.

Perlu diketahui juga bahwa ada klasifikasi lain yang mengelompokkan PLTS menjadi sistem on-grid, off-grid, dan hybrid. Ketiga jenis PLTS ini tidak hanya dapat berdiri sendiri, melainkan dapat dikombinasikan dengan PLTS Terpusat dan Tersebar.

PLTS Terpusat 100 kWp Untuk terangi Desa Terpencil
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana, Jum’at pagi (9/2), meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dengan kapasitas 100 kilo watt peak (kWp). Infrastruktur tersebut terletak di Desa Balang Datu, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

PLTS terpusat adalah PLTS yang memiliki jaringan distribusi listrik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan beban yang berbeda-beda di setiap rumah.

PLTS terpusat disebut juga sebagai PLTS terintegrasi, dimana terintegrasi maksudnya pembangkit listrik ini mengatur semua kebutuhan penggunanya dalam satu sistem atau manajemen.

Contohnya seperti PLTS yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan di daerah pedesaan atau daerah jauh dari jaringan PLN. Sehingga dibangunkan PLTS terpusat agar pengawasannya lebih mudah.

PLTS terpusat punya sebuah tempat untuk meletakkan panel surya dan komponen lainnya. Pengoperasian PLTS ini juga dilakukan secara terkoordinir seperti pembangkit listrik apda umumnya.

Namun ada juga PLTS terpusat yang dikelola oleh seorang operator sekaligus juga masyarakat desa setempat. PLTS semacam ini bisa dikatakan sebagai PLTS swadaya masyarakat setempat.

Lokasi tersebut biasanya dibangun PLTS off-grid terpusat yang mempunyai baterai, inverter, dan jaringan distribusi ke beberapa rumah masyarakat desa.

PLTS Tersebar 
Ilustrasi PLTS Tersebar

PLTS tersebar adalah PLTS yang tidak punya jaringan distribusi listrik, sehingga setiap rumah bisa membangun sistemnya sendiri. Sering juga disebut PLTS terdistribusi, dimana terdistribusi maksudnya pembangkit listrik ini dibangun terpisah-pisah.

Terdistribusi juga artinya tidak saling terhubung, seperti rumah A, B, C, D, dan E yang memasang PLTS diatapnya hanya untuk kebutuhan listrik rumahnya sendiri-sendiri.

Sebagai contoh lainnya yaitu PLTS off-grid tersebar seperti Solar Home Sytem (SHS) yang dipasang secara mandiri oleh pemilik rumah. Ada pula contoh PLTS on-grid tersebar seperti PLTS atap atau Solar PV Rooftop yang juga dapat dipasang mandiri di rumah.

Kesimpulan

Ternyata memang kedua pengelompokkan PLTS tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan juga dikombinasikan dengan tiga pilihan sistem PLTS (on-grid, off-grid, hybrid)

Karena memang pengelompokkan terpusat dan tersebar digunakan untuk membedakan jaringan distribusi atau pengiriman listrik kepada pengguna atau konsumennya.

Apakah suatu PLTS dibangun dengan jaringan distribusi listrik yang terintegrasi dalam suatu sistem ataukah dibangun sendiri-sendiri atau tersebar di masing-masing rumah hanya untuk kebutuhan individu masing-masing.

Pengelompokkan PLTS menjadi beberapa kategori dapat menyesuaikan dengan situasi yang ada di lapangan. Tidak menutup kemungkinan akan ada pengkategorian lain di masa depan seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi tenaga surya.

Kamis, 01 Desember 2022

Perbedaan PLTS Rooftop, Grounding, dan Floating

Perbedaan PLTS rooftop, grounding, dan floating adalah lokasi pemasangannya panel suryanya di roof (atap), ground (tanah), dan float (mengambang).

Alasan PLTS dikategorikan menurut lokasi pemasangan adalah menyesuaikan dengan kebutuhan Anda. Memasang panel surya tentu saja butuh pijakan yang kuat dan aman, kuat strukturnya dan aman dari lingkungan sekeliling yang bisa saja dapat merusak.

PLTS Rooftop
Sistem PLTS Rooftop

PLTS atap atau solar rooftop dikenal juga PLTS rooftop adalah pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung secara pararel dengan jaringan listrik PLN untuk menghemat konsumsi listrik dengan memasang panel surya di atap suatu bangunan, bisa rumah, kantor, dan pabrik.

Pada gambar di atas, terlihat panel surya terpasang di atap gedung Kementerian ESDM dan beberapa tempat parkir dibawahnya. Pemasangan tersebut akan sangat optimal jika matahari dapat diterima sepanjang hari tanpa ada bangunan atau pohon yang menghalangi.

Pemasangan di atap merupakan jenis pemasangan paling umum yang menggunakan rak sebagai penahan panel surya di atap. Panel surya dapat dipasang pada atap datar atau miring menggunakan bahan logam, sirap, atau karet.

PLTS atap direkomendasikan bagi pelanggan PLN yang mempunyai kebutuhan beban besar saat siang hari, khususnya untuk pelanggan bisnis atau industri yang menggunakan listrik untuk keperluan komersial.

Bagian yang perlu diperhatikan dari jenis PLTS ini adalah kapasitas yang diizinkan untuk dipasang yaitu maksimal sebesar daya listrik yang terhubung dengan jaringan PLN.

Apabila rumah terdaftar dengan jaringan PLN sebesar 450VA maka hanya boleh maksimal memasang daya PLTS sebesar itu, atau kantor dengan 900VA, 1300VA, 2200VA maka hanya diizinkan memasang maksimal sebesar itu.

Umumnya PLTS Atap On Grid memakai sistem AC Coupling tanpa baterai yang dipakai secara paralel dengan jaringan PLN. Namun, bisa juga Anda memasang panel surya di rooftop off-grid ataupun hybrid.

Meskipun baterai dapat ditambahkan sebagai backup namun sifatnya sementara, bukan untuk melayani seluruh beban sebab biaya yang dikeluarkan akan semakin tinggi jika membeli baterai.

Pada sistem on-grid AC Coupling, output dari inverter terhubung dengan jaringan listrik PLN yang secara simultan dipakai untuk beban perangkat elektronik.

Listrik yang dihasilkan PLTS akan menjadi pasokan utama yang digunakan, sehingga pasokan listrik dari PLN dapat dikurangi dan bahkan bisa ditiadakan sama sekali.

Apabila ada kelebihan listrik akan dialirkan ke jaringan PLN (export) dengan terlebih dahulu melewati net metering agar nantinya dapat diketahui besaran listrik yang di ekspor dan di impor.

Bahkan Anga bisa sampai mendapat tambahan penghasilkan jika listrik yang diekspor lebih banyak daripada yang dipakai. Namun, untuk di Indonesia sendiri aturannya tidak seperti itu.

Kelebihan llistrik PLTS yang dikirim ke jaringan PLN akan dihitung dan digunakan untuk mengurangi tagihan di bulan berikutnya. Lalu dalam beberapa bulan kemudian, perhitungan tersebut akan di reset dan menjadi nol lagi.

PLTS GROUNDING
Panel Surya Dengan Tiang Penyangga

PLTS grounding atau ground-mounted adalah pembangkit listrik tenaga surya yang dibangun di atas tanah menggunakan penopang khusus yang menahan panel surya. PLTS semacam ini bisa dihubungkan dengan jaringan listrik lainnya seperti dengan PLN untuk memenuhi beban listrik.

Dudukan atau penopang panel surya dipasang dengan balok baja atau tiang logam seperti besi agar panel surya menjadi aman dan tidak tergeletak langsung dengan tanah. Dudukan semacam ini dapat dipasang di tempat terbuka atau diatas tempat parkir.

Penopang ini dapat dipasang dimana pun dengan kondisinya tanah yang baik dan mendapat sinar matahari yang cukup. PLTS ini merupakan alternatif yang menarik untuk seseorang yang tidak memiliki cukup ruang atap yang dapat digunakan atau yang tidak suka memasang panel surya di atap rumahnya.

PLTS FLOATING
Sistem PLTS Floating

PLTS terapung atau PLTS floating adalah pembangkit listrik tenaga surya yang mengacu pada cara produksi listrik dengan memasang komponen PLTS pada struktur yang mengapung di air, biasanya di danau dan laut.

Sistem PLTS terapung dipasang di tempat yang airnya tidak digunakan secara langsung dan berada pada lokasi yang aman dengan arus yang tenang.

Indonesia bekerjasama dengan Uni Emirat Arab sedang membangun PLTS atap di Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Dengan 240 hektar lahan yang digunakan, PLTS ini akan menjadi terbesar di Asean sebagai penghasil listrik 145 Mega Watt Ac (MWac).

Fotovoltaik terapung menerapkan sistem pembangkit listrik tenaga surya yang menempatkan panel fotovoltaik di atas air atau terapung. Hal ini untuk menekan biaya sewa tanah dan cocok diterapkan di pantai atau laut Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri atas lautan.

Sistem yang dibangun serupa dengan PLTS lainnya, namun yang membedakan adalah panel surya yang dipasang didesain khusus agar mengapung di atas air.

Desain ini mampu meningkatkan efisiensi pembangkit karena air dapat mendinginkan sel-sel surya dan memberikan efek pendinginan alami melalui air yang ada dibawah panel surya.

Kesimpulan

Ketiga jenis PLTS tersebut tidak sepenuhnya harus on-grid melainkan juga bisa dibangun dengan sistem off-grid dan hybrid menyesuaikan dengan ketersediaan tempat pemasangan, dan kebutuhan beban yang diperlukan.

Berdasrkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa perbedaan PLTS Rooftop, Grounding, dan Floating adalah tempat atau lokasi pemasangan panel surya.

PLTS rooftop menggunakan atap dan dinding sebagai tempatnya, PLTS grounding memakai tanah sebagai tempat meletakkan rak penopang panel surya, dan PLTS floating menggunakan danau atau laut yang mempunyai arus tenang sebagai tempat menempatkan panel surya dan komponen lainnya.




Perbedaan PLTS On-Grid, Off-Grid, dan Hybrid

Perbedaan PLTS on-grid, off-grid, dan hybrid terletak pada karakteristik penyimpanan dayanya, persamaan ketiganya yaitu bekerja dengan prinsip dasar yang sama.

Sistem pembangkit listrik tenaga surya dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis sambungan dengan jaringan, yaitu: PLTS on-grid, off-grid, dan hybrid.

Ketiga sistem tersebut bekerja dengan prinsip dasar sama dalam memanfaatkan sinar matahari. Semua sistem sama-sama menggunakan panel surya untuk mengubah sinar matahari menjadi arus listrik.

Perbedaan on grid off grid dan hybrid adalah penyimpanan daya dan variasi sumber energi yang dipakai sebacai backup atau cadangan. Tidak semua sistem dapat melakukan hal yang sama, bergantung pada karakteristik media yang digunakan untuk menyimpan energi.

ON-GRID

Sistem PLTS On Grid

PLTs on-grid adalah pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung dengan jaringan listrik PLN, oleh karena itu disebut on-grid atau didalam jaringan. On Grid juga seringkali disebut sebagai PLTS grid-tie atau grid-feed.

PLTS on-grid bisa menggunakan dua sumber energi, yaitu dari tenaga surya dan listrik PLN. Keduanya bisa digunakan bergantian, khususnya ketika malam hari dimana matahari sudah tidak nampak sinarnya.

Perbedaan on grid dengan off grid adalah baterai dan jaringan PLN, PLTS on grid tidak memiliki komponen baterai. Jika ada kelebihan listrik yang dihasilkan panel surya akan disimpan ke jaringan PLN.

Sedangkan PLTS off grid menyimpannya ke baterai yang menjadikan jaringan PLN sebagai pengganti baterai, baik itu untuk menyimpan energi maupun untuk keperluan cadangan.

Sistem ini banyak digunakan oleh rumah tangga karena memiliki cadangan listrik PLN sebagai backup jika panel surya tidak menghasilkan listrik yang cukup. Sistem ini bisa menjadi pilihan jika ingin memiliki PLTS dengan biaya instalasi yang lebih hemat.

PLTS OFF-GRID

Sistem Off Grid


PLTS off-grid adalah pembangkit listrik tenaga surya yang tidak memiliki sambungan dengan jaringan kelistrikan PLN. Oleh karena itu disebut off-grid atau diluar jaringan.

Sistem off-grid dapat memakai dua sumber energi listrik, yaitu dari listrik yang diproduksi panel surya dan listrik yang disimpan baterai.

Sistem ini menjadikan PLTS bisa mandiri 100% dalam memenuhi kebutuhan daya di rumah. Namun, karena sistem off-grid hanya mengandalkan sinar matahari maka pemilik harus memasang baterai sebagai cadangan energi.

Baterai ini merupakan komponen yang penting dalam sistem off-grid, sebab baterai adalah sumber energi utama saat malam hari. Baterai merupakan komponen wajib jika memilih sistem off-grid.

 PLTS HYBRID

Sistem PLTS Hybrid

PLTS hybrid adalah pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi gabungan antara tenaga surya dan sumber energi lainnya, seperti dari PLN dengan PLTD, PLTB, PLTA, dan lain sebagainya.

Sistem ini juga dapat dimaknai sebagai sistem yang menggabungkan keunggulan on-grid dan off-grid secara bersama-sama. Sistem ini mengadopsi keunggulan dari sistem PLTS on-grid dan off-grid.

PLTS on-grid yang bisa terhubung dengan jaringan PLN, sedangkan off-grid bisa terhubungan dengan baterai sebagai tempat penyimpanan energi berlebih yang dihasilkan panel surya.

Sistem hybrid bisa memakai tiga sumber energi: panel surya, baterai, dan listrik PLN. Adanya ketiga sumber ini menjadikan sistem PLTS hybrid lebih unggul dibandingkan dua sistem lainnya.

Pemilik PLTS pun jadi lebih rileks dan tidak khawatir kehabisan sumber daya. Karena ketiganya bisa saling melengkapi dan bergantian memenuhi kebutuhan listrik di rumah.

Bahkan ada pula yang menyebut bahwa sistem hybrid punya empat sumber energi selain yang disebutkan di atas, yaitu energi yang berasal dari genset.

Ya, genset digunakan sebagai cadangan kalau skenario terburuk terjadi misalnya malam hari ketika baterai habis dan listrik PLN padam.

Kesimpulan

Akhirnya, keputusan ada ditangan anda untuk memilih PLTS on-grid, off-grid, atau hybrid. Setiap orang tinggal ditempat berbeda dan punya kebutuhan listrik yang berbeda. 

Cara Menghitung Kebutuhan PLTS Skala Rumahan | Panel Surya



PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) saat ini sudah mulai digemari di berbagai kalangan. Selain bisa menghemat pengeluaran karena mengurangi pembayaran ke PLN, tetapi juga bisa menjaga lingkungan karena menggunakan energi yang terbarukan.

Apabila Anda saat ini sedang ingin merencanakan pemasangan PLTS, ada baiknya mengkalkulasi terlebih dahulu supaya memudahkan ketika sudah mulai membeli keperluan nanti. Jangan sampai asal membeli keperluan PLTS yang berakibat pemborosan karena membeli suatu barang yang ternyata tidak perlu.

Ok, langsung saja. Berikut adalah cara menghitung kebutuhan PLTS skala rumahan.

Apabila Anda saat ini sedang ingin merencanakan pemasangan PLTS, ada baiknya mengkalkulasi terlebih dahulu supaya memudahkan ketika sudah mulai membeli keperluan nanti. Jangan sampai asal membeli keperluan PLTS yang berakibat pemborosan karena membeli suatu barang yang ternyata tidak perlu.

Ok, langsung saja. Berikut adalah cara menghitung kebutuhan PLTS skala rumahan.

1. Membuat Pendataan Daya Listrik


Tabel di atas adalah contoh pendataan daya listrik yang digunakan setiap harinya. Dari tabel di atas, dapat diketahui jika total penggunaan daya listrik setiap harinya sebesar 4.260 Watt.

Namun, yang perlu diingat. Bahwa energi listrik yang dihasilkan PLTS ini tidak 100% dapat digunakan. Karena selama masa transmisi dari panel surya hingga pada akhirnya ke beban (alat elektronik), terdapat hingga 40% energi listrik yang hilang.

Maka dari itu, perlu adanya penambahan 40% daya listrik dari total daya yang digunakan. Jadi, secara matematika dapat ditulis seperti berikut:

Total daya = Daya rumah : (100% – 40% )
                    = 4.260 Watt : 60%
                    = 7.100 Watt

Jadi, total dayanya sebesar 7.100 Watt.


2. Menentukan Kebutuhan Panel Surya

Untuk menentukan banyaknya panel surya yang dibutuhkan, penting untuk mengetahui apa itu Watt Peak (WP). Jadi, Watt Peak adalah besarnya atau optimalnya nominal Watt tertinggi yang dapat dihasilkan dari sebuah panel surya.

Di Indonesia, proses photovoltaic optimalnya hanya berlangsung 5 jam saja, sehingga untuk menghitung banyaknya panel surya yang digunakan, dapat dengan cara berikut:

Panel Surya = Total Daya : Waktu Optimal
                      = 7.100 Watt : 5 Jam
                      = 1.420 Watt Peak

Jadi, untuk mendapatkan daya yang diinginkan, perlu menggunakan panel surya 1.420 Watt Peak. Namun, karena panel surya yang dijual di pasaran umumnya hanya 50 WP dan 100 WP, maka diambil saja yang 100 WP, supaya lebih ringkas. Sehingga:

1.420 WP : 100 WP = 14,2 pcs
                                   = 15 pcs (dibulatkan)

Jadi, total panel surya yang dibutuhkan sebanyak 15 pcs.


3. Menentukan Penggunaan Beterai

Pada siang hari, baterai selain digunakan langsung, tetapi juga melakukan pengisian dari panel surya, sehingga pada malam hari tetap bisa menggunakan energi listrik tanpa harus menggunakan jaringan listrik PLN.

Namun, energi listrik pada baterai tidak 100% dapat digunakan. Karena pada saat di inverter potensi kehilangan energinya bisa sebesar 5%, sehingga perlu adanya cadangan 5% yang harus ditambah.

Cadangan = Daya Rumah : (100% – 5%)
                   = 4.260 Watt : 95%
                   = 4.484 Watt

Jadi, acuan daya listrik yang digunakan untuk menentukan baterai adalah 4.484 Watt.

Selanjunya, memilih spesifikasi baterai yang tepat. Di pasaran juga dijual berbagai jenis spesifaksi baterai. Di sini ambil saja misalnya 12 V 100 Ah. Kemudian, hitung kembali jumlah baterai yang akan digunakan.

Jumlah baterai = Daya Listrik : Kapasitas Baterai
                            = 4.484 Watt : (12 V x 100 Ah)
                            = 4.484 Watt : 1.200 Watt
                            = 3,7 Watt
                            = 4 pcs (dibulatkan)

Tetapi ini juga belum selesai. Ingat. Penggunaan baterai tidak bolah sampai habis karena membuat baterai cepat rusak. Gunakan setengahnya saja atau setara 50% saja.

Jadi, hasil perhitungan di atas dikalikan 2, supaya mendapat hasil yang maksimal. Maka 4 x 2 = 8 pcs. Sehingga untuk kebutuhan beterainya sebanyak 8 pcs.

4. Menentukan Inverter

Inverter adalah alat yang berguna mengubah arus DC (searah) menjadi arus AC (bolak-balik). Untuk menentukan inverter, asumsikan jika semua alat menyala bersamaan, maka dari data sebelumnya sudah didapat 805 Watt. Jadi,  pilihlah inverter yang outputnya lebih dari 805 Watt. Sebagai contoh, bisa dipilih inverter dengan output 1000 Watt atau setara 1 kW.

Baca Juga: Peran Penting Inverter pada Rangkain Sistem Panel Surya

5. Menentukan Sollar Charge Controler

Sebelum menentukan SCC (Sollar Charge Controler) pahami dahulu spesifikasi pada panel surya. Biasanya, pada panel surya tertulis kode seperti berikut:

Pm = 100 WP

Vm = 18 VDC

Voc = 21,25 A

Imp = 5,8 A

Isc = 6 A

Kemudian, perhatikan Isc (short circuit current). Selanjutnya, kalikan Isc dengan jumlah panel surya.

Daya SCC = Isc x Jumlah Panel Surya
                   = 6 x 15 pcs
                   = 90 A

Jadi, minimal SCC memiliki daya 90 A. Sebagai contoh, ambil saja SCC 100 A.

Kesimpulan

Untuk memasang PLTS dengan beban 4.260 Watt memerlukan perlengkapan sebagai berikut:

Panel surya = 15 pcs (100 WP)

Baterai = 8 pcs (12 V 100 Ah)

Inverter = 1000 Watt atau 1 Kw

Sollar Charge Controler = 100 

Perbedaan Hybrid Learning dan Blended Learning

Perbedaan hybrid learning

Strategi pembelajaran di masa pandemi yang sering-sering disebut adalah Hybrid Learning dan blended learning. Kedua istilah tersebut sering kali ditujukan pada hal yang sama, padahal hybrid learning dan blended learning memiliki perbedaan pada pelaksanaannya. Apa itu hybrid learning? Hybrid learning adalah sebuah model pembelajaran dimana seorang guru mengajar siswa yang sedang belajar dari rumah dan juga belajar di sekolah secara bersamaan dengan bantuan teknologi. Dengan kata lain, Hybrid learning adalah sebuah model atau metode pembelajaran yang menggabungkan sistem pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis online. Dan proporsi yang digunakan biasanya adalah seimbang, yakni 50% dari keduanya.

Bagaimana dengan blended learning? Strategi pembelajaran blended learning merupakan sebuah proses pembelajaran yang memadukan kegiatan belajar mengajar langsung (synchronous) dengan a sinkron atau asynchronous. Pembelajaran yang menggunakan blended learning dapat dilakukan secara jarak jauh. Itulah kenapa model pembelajaran ini merupakan jawaban bagi dunia pendidikan ketika siswa dan guru tidak dapat keluar rumah untuk mencegah mencegah penyebaran virus corona.

Kelebihan dan kekurangan Hybrid Learning dan Blended Learning

Hybrid Learning

Kelebihan yang dimiliki oleh pembelajaran hybrid Learning adalah sebagai berikut:

1. Siswa dapat menentukan pilihan apakah akan mengikuti pembelajaran secara daring ataupun luring. Apalagi saat ini pembelajaran luring harus atas izin dari orang tua siswa.

2. Siswa dapat merasakan adanya variasi dalam pembelajaran.

3. Siswa yang memilih belajar secara daring atau siswa yang terkendala tidak dapat hadir di kelas tetap dapat mengikuti pemaparan materi atau kegiatan pembelajaran yang dipandu langsung oleh guru di sekolah.

4. Terjadi pembatasan kegiatan fisik dan interaksi sosial yang sangat dianjurkan untuk mencegah meluas penyebaran virus covid 19.

Selain kelebihan dari pembelajaran hybrid di atas, ternyata model pembelajaran ini juga memiliki beberapa kekurangan seperti berikut ini:

1. Guru harus memastikan perangkat pembelajaran yang digunakan dapat menjamin keberlangsungan proses pembelajaran secara seimbang.

2. Diperlukan aneka peralatan yang bisa mendukung proses live streaming agar materi yang didapatkan oleh siswa yang memilih online learning tetap berkualitas dan bermakna.

3. Guru mengalami kelelahan karena pada dasarnya harus dapat mengkondisikan pembelajaran daring dan luring secara bersamaan yang tentu saja membutuhkan energi lebih.

4. Biaya dan dana yang harus dikeluarkan oleh pihak sekolah maupun siswa untuk dapat menunjang keberlangsungan aktivitas pembelajaran tidak sedikit.

Blended Learning

Pembelajaran campuran atau blended learning juga memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut:

1. Efektif karena siswa diberikan keleluasaan untuk mencari pemahaman dari berbagai sumber untuk kemudian didiskusikan bersama di saat kelas sinkron berlangsung.

2. Fleksibel karena dapat belajar di manapun dan juga dapat belajar kapanpun sesuai dengan kesepakatan kelas.

3. Hemat karena siswa tidak membutuhkan ongkos kendaraan ke sekolah dan juga membeli makanan di kantin. Bagi sekolah,model pembelajaran ini dapat mengurangi pengeluaran, seperti bisa biaya listrik karena AC, lampu, komputer, dan lain-lain.

4. Keberadaan berbagai sarana dan prasarana berbasis IT benar-benar akan membantu siswa maupun guru untuk menyelenggarakan kelas yang jauh lebih komprehensif.

5. Membentuk karakter mandiri siswa karena siswa dituntut untuk menjadi pembelajar mandiri yang tidak hanya mengandalkan ceramah guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Siswa harus rajin mencari sumber referensi lainnya, disiplin dalam mengumpulkan tugas atau menghadiri kelas online, dan terlatih untuk menggunakan berbagai aplikasi maupun teknologi informasi lainnya sebagai penunjang proses belajar.

Namun, rupanya blended learning juga memiliki beberapa kelemahan seperti berikut ini:

1. Membutuhkan biaya tinggi untuk menyediakan berbagai alat penunjang seperti komputer, laptop, atau Smartphone dengan spesifikasi yang mendukung aplikasi pendidikan yang dibutuhkan. Tingginya biaya yang dikeluhkan juga berasal dari kebutuhan internet dan juga berlangganan aplikasi berbayar yang dibutuhkan.

2. Kegagalan mencapai target sangat mungkin terjadi jika guru tidak mampu menyajikan pembelajaran yang inovatif sehingga pembelajaran menjadi monoton. Penyebab lain tidak tercapainya tujuan pembelajaran adalah terbatasnya monitor oleh guru sehingga siswa menjadi tidak disiplin dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

3. Beberapa sumber mengatakan bahwa pembelajaran blended rentan manipulasi. Misalnya siswa mengerjakan bantuan dengan bantuan aplikasi yang tidak dianjurkan, tidak hadir di kelas sinkron tetapi dengan aplikasi tertentu ketidak hadiran tidak dapat dideteksi oleh guru, dan lain sebagainya.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Hybrid Learning

Untuk menyelenggarakan pembelajaran hybrid yang sukses, Guru Pintar dapat mengikuti langkah-langkah berikut ini:

1. Tentukan target pembelajaran

Sebelum memulai hybrid learning, Guru Pintar harus menentukan target pembelajaran yang harus dicapai siswa dalam satu semester atau satu tahun.  Penentuan target pembelajaran ini penting untuk membantu Guru Pintar merancang pembelajaran dan juga asesmen yang akan digunakan.

2. Memetakan pembelajaran

Setelah menentukan tujuan pembelajaran dan bagaimana menilai siswa, Guru Pintar harus memetakan bagaimana target pembelajaran tersebut akan menavigasi kelas yang diajar. Bagaimana caranya?  Dengan membuat bagan, tabel, timeline, atau alat visual lain untuk menguraikan modul pembelajaran dan aktivitas serta sumbernya masing-masing dalam urutan yang kronologis. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi Guru Pintar untuk menemukan celah atau aktivitas yang kurang berkembang dan kemudian memperbaikinya.

3. Mendesain pembelajaran

Tahap selanjutnya adalah mendesain pembelajaran. Setelah memetakan pembelajaran, kini saatnya untuk mempertimbangkan elemen hybrid. Waktu kelas tatap muka yang terbatas harus dirancang sedemikian rupa supaya pembelajaran berjalan dengan efektif. Mengingat waktu pembelajaran sinkron sangat terbatas, Guru Pintar harus mempertimbangkan hal-hal berikut untuk membuat pembelajaran berjalan dengan efektif: sesi pembelajaran secara sinkron, bagaimana mengkomunikasikan harapan kelas dan menguraikan tanggung jawab individu, bagaimana membangun lingkungan belajar yang kolaboratif, bagaimana meminta dan merespon presentasi siswa, dan bagaimana memberikan umpan balik langsung kepada siswa.

4. Buat perangkat pembelajaran yang dibutuhkan

Seperti pembelajaran pada umumnya, Guru Pintar tetap harus membuat perangkat pembelajaran seperti program tahunan, program semester, rencana pelaksanaan pembelajaran, rencana remidial/pengayaan, media pembelajaran, dan lain sebagainya

5. Lakukan uji coba

Supaya pembelajaran dengan model hybrid ini berjalan dengan lancar, Guru Pintar perlu melakukan uji coba terlebih dahulu. Hal ini penting untuk melihat kesiapan sarana dan prasarana yang akan digunakan, kesiapan guru dan siswa, dan juga untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin menghambat jalannya pembelajaran hybrid ini.

Demikianlah ulasan tentang hybrid learning. Semoga dengan informasi ini dapat membantu menambah informasi supaya Guru Pintar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas.

Pembangkit Listrik Tenaga Surya ON GRID

Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS On Grid adalah sebuah sistem pembangkit listrik tenaga surya yang mengubah cahaya matahari menjadi arus listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik di rumah atau gedung, baik itu itu gedung perkantoran, pertokoan, pabrik, dan lainnya.

Tujuan dari PLTS On Grid ini tentunya untuk penghematan penggunaan listrik dari PLN di siang hari. Dengan penghematan ini tentunya akan menghemat biaya tagihan pemakaian listrik PLN.

Pemanfaatan cahaya matahari untuk solar home system ini secara teknis kita menggunakan panel surya yang terpasang di atap rumah atau gedung yang menerima cahaya matahari dan mengubah menjadi arus DC, kemudian melalui inverter arus DC tersebut diubah menjadi arus AC. Arus AC yang bersumber dari cahaya matahari tersebut akan disesuaikan dengan arus listrik dari PLN untuk kita gunakan. Jika arus listrik yang dihasilkan dari cahaya matahari melebihi pemakaian listrik kita, maka kita bisa menjual kelebihan tersebut kepada PLN dengan menggunakan meteran khusus.

Keuntungan menggunakan PLTS On Grid
  • Mengurangi biaya pemakaian listrik PLN, apalagi biaya tagihan listrik yang mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tentu saja biaya yang bisa dihemat akan semakin besar juga setiap tahunnya.
  • Untuk PLTS On Grid ini kita tidak membutuhkan baterei sebagai penyimpanan energi listrik, tetapi kelebihan yang ada bisa langsung dialirkan ke PLN.
  • Selain menghemat biaya tagihan listrik PLN, dengan PLTS On Grid ini kita juga bisa menghemat biaya operasional genset.
  • Kelebihan listrik yang dihasilkan dari PLTS On Grid ini bisa dijual kepada PLN (dengan alat meteran khusus) dan memberikan tambahan pemasukan.
  • Bebas polusi, karena sistem PLTS On Grid ini ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi bagi lingkungan.
Simulasi cara kerja PLTS On Grid

Pada saat pagi hari atau sore hari atau kondisi mendung/hujan dimana cahaya matahari tidak maksimal. Daya yang dihasilkan dari panel surya misalnya hanya 500W sedangkan kebutuhan adalah 1000W, maka kekurangan daya sebesar 500W akan diserap dari listrik PLN.

Jadi dalam kondisi ini, masih memerlukan support dari PLN sebesar 500W.

Pagi atau siang hari, cuaca mendung atau hujan.

Pada saat siang hari dan cuaca cerah dan cahaya matahari maksimal. Daya yang dihasilkan dari panel surya 1000W sesuai dengan kebutuhan yaitu 1000W, maka seluruh kebutuhan listrik dapat dipenuhi dan tidak memerlukan daya dari listrik PLN.

Dalam kondisi ini, kita tidak memerlukan support dari PLN atau bisa disebut kebutuhan listrik PLN saat ini 0.

Siang hari, cuaca cerah, matahari bersinar terik.

Pada saat siang hari dan cuaca cerah dan cahaya matahari maksimal. Daya yang dihasilkan dari panel surya 1000W, tetapi kebutuhan ternyata hanya 700w, maka ada kelebihan daya yang dihasilkan sebesar 300W, maka kelebihan daya ini akan mengalir ke  PLN.

Dalam kondisi ini, kita malah bisa menjual kelebihan daya ke PLN.

Siang hari, cuaca cerah, matahari bersinar terik

Berikut adalah simulasi penghematan biaya yang bisa didapat dengan PLTS On Grid, dengan anggapan ada kenaikan tarif listrik PLN sebesar 20%/th. Kapasitas PLTS sebesar 5.025 Wp, perkiraan produksi listrik sebesar 6.786 kWh/th, dan penghematan listrik/th sebesar Rp 10.179.394,00/th.

Dari perhitungan simulasi di atas terlihat bahwa biaya investasi yang dikeluarkan akan kembali pada tahun ke 5. Untuk tahun berikutnya kita akan menikmati keuntungan dari penghematan yang kita peroleh dari penggunaan PLTS On-Grid.

PT Harbangan Ashera Nabolax adalah distributor, agen, importir resmi produk panel surya yang sudah berpengalaman sejak tahun 2017. Harga yang kompetitif dan jaminan kualitas produk, memberikan garansi kepada seluruh konsumen yang telah percaya dengan produk kami. Berbagai macam instansi Negeri maupun Swasta, Perorangan ataupun kontraktor telah menggunakan produk dari kami




PLTS ON GRID TIE SYSTEM

Sistem panel surya on grid atau PLTS Grid Tie System adalah sebuah sistem yang bekerja secara langsung di panel surya. Teknologi sistem ini tidak memakai baterai, dan listrik yang dihasilkan langsung digunakan untuk berbagai keperluan. Listrik yang dihasilkan adalah AC sehingga sistem panel surya on grid ini dapat diterapkan bersama-sama dengan jaringan PLN.

Pembangkit listrik tenaga surya sistem on grid ini cocok diterapkan di perumahan dengan memanfaatkan atap sebagai ruang untuk menyerap energi matahari. Sistem ini jika dipasang bersamaan dengan PLN akan mengurangi pengeluaran biaya listrik.

Berbeda dengan PLTS Off Grid, sistem ini mengunakan energi listrik dari panel surya atau solar cell menggunakan arus DC atau Direct Current. Lalu langsung diubah jadi arus AC atau Alternating Current menggunakan inverter. Arus AC yang dihasilkan oleh inverter ini kemudian dihubungkan langsung pada beban yang butuh energi listrik seperti TV, lampu, setrika, kulkas dan sebagainya.

 

Penerapan bersamaan dengan PLN
Penerapan sistem atau prinsip kerja PLTS Grid Tie System ini dapat dijalankan dengan sistem kelistrikan PLN dan diatur dalam Peraturan Menteri ESDM tentang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE). Dalam sistem ini, jaringan listrik PLN berperan sebagai penyalur atau penghubung arus listrik yang berasal dari panel surya yang dialirkan pada beban. Dengan begitu pada siang hari, penggunaan listrik dapat memanfaatkan energi listrik dari sinar matahar dan pada malam hari karena tidak ada sinar matahari menyebabkan tidak ada produksi listrik dari solar panel, maka dapat tetap menggunakan arus listrik yang berasal dari PLN.

Karena rancangannya bisa disinkronkan terhadap sistem kerja di dalam jaringan listrik PLN membuat pengguna tidak perlu merasa takut atau was-was akan terjadi suatu konflik arus listrik yang membahayakan atau dapat menimbulkan kerusakan pada perangkat elektronik.

CARA KERJA PLTS ON GRID TIE SYSTEM


 

Paket On-Grid terdiri dari:

  • Modul Panel Surya ICA atau Trina Solar
  • On-Grid Inverter Solis atau ICA Solar
  • Bracket Modul array alumunium rack set
  • Kabel Panel Surya & Konektor MC-4
  • Safety & Disconnection System
  • Sistem Design
  • Remote Monitoring (Optional)

 
Kelebihan:

  • Mengurangi biaya listrik untuk jangka panjang
  • Panel Surya & Inverter branded merek internasional, bukan re-branding
  • 25 tahun garansi performa output panel surya

 

Mengenal Diri Menuju Rasa Syukur

Alangkah baiknya kita gali dulu apa itu Konsentrasi, Meditasi dan Samadi. Bisa kita cari informasi di google dari sumber sumber yang selaras...